dikasih jimat di gunung dempo

Suatu ketika hendak berangkat

Setelah istirahat malam disalah satu rumah warga yang terletak bawah kaki gunung dempo paginya sekitar jam 8 pagi kami bergegas berangkat kepasar untuk berbelanja logistic yang akan diperlukan selama pendakian berlangsung nantinya, jangan risau karena antara rumah warga dan pasar tidak terlalu jauh hanya saja yang namanya pasar pasti sudah ramai pengunjung, namun sebelum berbelanja ke pasar alangkah baiknya mencatat kebutuhan apa saja yang harus di beli nanti nya supaya tidak kelihatan bingung ketika berada di pasar tidak membuang” waktu saja, seperti yang kami alami tiba sampai pasar kebingungan tentang apa saja yang hendak dibeli alhasil sedapatnya saja yang dibawa walaupun ada beberapa bahan yang tak dibeli tetapi tidak terlalu berpengaruh hanya saja agak kurang mewah ketika berada di dalam tenda.

Sesampainya dipasar dengan bahasa yang agak asing bagi pedagang, kami mencoba untuk bernegosiasi harga tetapi pedagang tidak menggubris negosiasi kami, untung saja waktu itu kami di temani oleh anak dari yang punya rumah persinggahan itu dengan cekatan dia pun bernegosiasi dengan logat setempat walaupun masih berbahasa Indonesia tetapi pengucapan dan intonasinya jelas berbeda dengan kami yang bersal dari pekanbaru. Ketika sedang asik berbelanja dan melihat lihat sisi pasar ada salah satu penjual dengan perawakan tidak lagi muda atau sudah kakek kakek yang sedari tadi memperhatikan kami, dan tatkala kami pun menyapa lalu sekadar basa basi sampai pada akhirnya kakek tersebut membrondong kami dengan pertanyaan seperti dari mana,disini nginep dimana, sampai ada tujuan apa datang ke desa pagar alam ini. Dengaan santun teman saya menjawab tujuan datang kesini kami dari tim Arvin adventure untuk mendaki gunung dempo, setelah mengetahui hal itu sikakek tersebut memberikan dua buah tumbuhan sejenis kunyit atau jahe “kalau kalian mau naik gunung dempo jangan lupa bawa ini, simpan dikantong celana kalian”.ucapnya begitu. Tumbuhan itu lebih dikenal dengan sebutan mbringo bengle dalam bahasa jawa disebut begitu, ciri ciri seperti kunyit/jahe tetapi berwarna merah.

Si kakek penjual memberi itu bukan tanpa alasan semata, tambahnya lagi “supaya ketika mendaki nanti kalian aman aman saja dan tidak diganggu oleh penghuni disitu”. Antara percaya dan tidak sih namun salah satu orang perwakilan dari tim Arvin adventure mengambil jimat sebut saja begitu dari kakek penjual tersebut, hanya sekadar menghargai ataupun emang takut. Seharusnya dalam hal ini lebih ketidak mempercayai tentang jimat mbringo bengle yang katanya supaya tidak dinganggu makhluk gaib, padahal jika kita masih berpikir secara logis, sopan terhadap alam itu sudah jadi basic pelindung pribadi masing masing, tetapi jika tidak mempercayai bukan berarti tidak menghormati. Namun mana sempat berpikir logis keburu takut kok. hahaha

Setelah selesai berbelanja kami memeriksa satu persatu apa saja yang dibeli sembari melakukan packing ulang dikarnakan ada bahan tambahan dibagian logistic, selesai itu kami pun sarapan dengan menu yang sederhana namun terkesan nikamat dan  mewah apalagi dibagian rasa masakan bude selaku pemilik rumah yang kami singgahi ini pas betul dilidah kami para tim Arvin adventure. Dipertengangan lahap melahap swedang berlangsung timbullah satu kerguan di benak ku yaitu tentang antrara nambah malu sedang gak nambah rugi dan berhenti, perut pun enggan,sangking nikmatnya msakan bude saya menjadi bimbang hahaha. Kerendahan hati dan kebaikan pemilik rumah itu yang selalu disuguhkan kepada kami selama berada disitu membuat para tim Adventure Adventure menjadi sangat nyaman dengan sapaan dan jamuaan nya, bahkan ketika hendak berangkat ibu pemilik rumah paham betul kondisi disana nantinya sampai sampai kami dibungkus kan nasi beserta lauk nya yang aaah mantaaap dan itu untuk perbekalan kami selama di jalur pendakian nantinya. Kami yang berjumlah lima orang dengan ras malu akhrinya berkata “untuk nasi nya tiga bungkus aja bude gapapa kok”. Ahaha sungguh mulia betul ucapan yang terlontar dari mulut tim Arvin adventure. Setelahnya kami langsung pamit dan mulai berangkat. Namun ketika kami hendak berangkat bude berpesan kepada kami “ nanti kalau kalian udah sampai dijalur makam jangan lupa kirim doa atau sekadar alfatiha (bagi yang muslim) buat almarhum yang telah membuka jalan atau merlis jalur gunung dempo” ujarnya begitu.

pos pendaftaran gunung dempo

ditulis oleh: Litani amerta

2 tanggapan pada “dikasih jimat di gunung dempo

  1. Jadii ga sabar mau baca sambungannya😂

    1. harus sabar donng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *